Bentuk pengobatan lain sebagai konsekuensi jalan kefasikan seseorang, adalah terkena al-jahuula (bodoh) terhadap kebenaran, kemudian merasakan pemilikan al-jahuula tidak dianggap lagi sebagai penyakit yang dapat mengganggu hubungan dengan Allah sWT (hablum minallah) maupun keterkaitannya dengan sesama manusia (hablum minannas). Efek itulah yang selanjutnya dapat mengubah sikap kebaikan kepada kebatilan sebagai sarana jalan syaitan laknatullah.
Sebagai diilustrasikan Allah SWT ketika menawarkan tanggung jawab untuk melaksanakan amanat yang ditolak oleh gunung, langit maupun bumi tetapi manusia menerimanya, seperti firmanNya: "Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya dan dipikullah amanat itu oleh manusia, sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh." (QS.33:72).
Al-jahuula pada dewasa ini lebih tampak tercermin melalui kebijakan yang diambil seseorang untuk memilih antara kebenaran dan kebatilan, tetapi pilihannya justru kepada kebatilan, yang sesungguhnya mereka mengetahuinya akan mendapat murka (azab) dari Allah SWT kenyataan seperti ini, bukanlah sesuatu yang mengherankan, tetapi dalam zaman yang serba materialistis ini kemungkinan bisa terjadi seketika. Bahkan kebenaran pun bisa dibeli dengan segepok uang! Itulah realita yang sungguh ironis terjadi di jaman sekarang ini. Karena hilangnya kewaspadaan pada tiap-tiap diri seseorang, kemudian hidupnya diliputi oleh ketergantungan yang bersifat materi semata.
Showing posts with label At-Tadbiniyyah. Show all posts
Showing posts with label At-Tadbiniyyah. Show all posts
Al-Kafuuraa
Konsekuensi mengambil jalur kefasikan maka melahirkan penyakit al-kafuuraa (kafir) dengan kata lain perkataan mengingkari terhadap kebenaran. Kelompok umat ini, pada hakekatnya mengetahui adanya kebenaran, tetapi menutup hati untuk melakukannya (amal) karena kekafiran yang terdapat di dalam dirinya. Sehingga Allah SWT memberikan informasi keberadaan orang-orang kafir seperti diabadikan Al-Quran: "Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat." (QS.2:67).
Makna al-kafuuraa secara lebih jauh dapat dipahami baik secara i'tiqadi (keluar dari Islam) maupun kafir secara amali (pengamalan). Dalam konteks kehidupan sehari-hari yang lebih dominan kafir secara amali (pengamalan), walau pun hatinya masih Islam. Sehingga yang perlu pemikiran lebih dalam, adanya usaha untuk mengembalikan ummat ke jalan ketaqwaan sekaligus meninggalkan sikap kekafiran baik kafir i'tiqadi maupun kafir secara amali. Kekafiran yang terdapat dalam jiwa seseorang baik secara i'tiqadi maupun kafir amali, pada hakekatnya akan menempatkan dirinya pada suatu kerugian, sehingga aktivitas amaliyahnya tidak mendapat nilai menurut pandangan Allah SWT, dalam Al-Quran yang artinya: "Sesungguhnya orang-orang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yang pedih. Mereka itu adalah orang-orang yang lenyap (pahala) amal-amalnya di dunia dan akhirat, dan mereka sekali-kali tidak memperoleh penolong." (QS.3:21-22).
Makna al-kafuuraa secara lebih jauh dapat dipahami baik secara i'tiqadi (keluar dari Islam) maupun kafir secara amali (pengamalan). Dalam konteks kehidupan sehari-hari yang lebih dominan kafir secara amali (pengamalan), walau pun hatinya masih Islam. Sehingga yang perlu pemikiran lebih dalam, adanya usaha untuk mengembalikan ummat ke jalan ketaqwaan sekaligus meninggalkan sikap kekafiran baik kafir i'tiqadi maupun kafir secara amali. Kekafiran yang terdapat dalam jiwa seseorang baik secara i'tiqadi maupun kafir amali, pada hakekatnya akan menempatkan dirinya pada suatu kerugian, sehingga aktivitas amaliyahnya tidak mendapat nilai menurut pandangan Allah SWT, dalam Al-Quran yang artinya: "Sesungguhnya orang-orang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yang pedih. Mereka itu adalah orang-orang yang lenyap (pahala) amal-amalnya di dunia dan akhirat, dan mereka sekali-kali tidak memperoleh penolong." (QS.3:21-22).
Label:
At-Tadbiniyyah
Al-Qatuura
Bentuk perilaku kotor dalam bentuk lain yang ada pada jiwa orang-orang fasik yakni Al-Qatuura (kikir), seolah-olah segalanya adalah milik dirinya sendiri baik harta maupun tahta sekalipun. Padahal menurut aturan Allah SWT semuanya merupakan amanah yang harus dipenuhi ketentuannya, seperti diberikannya harta, di dalamnya ada hak orang lain: "Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian." (QS.51:19).
Walaupun manusia memiliki sifat kikir seperti dalam firmanNya: "Katakanlah: "Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya. Dan adalah manusia itu sangat kikir." (QS.17:100). Akan tetapi tidak demikian, jika seseorang yang komitmen terhadap keimanannya. Karena menyadari, bahwa rizki yang Allah SWT berikan sesungguhnya amanah semata, yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali olehNya. Jika setiap umat menyadari asal-usul rizki secara proposional, tentu akan melahirkan pribadi-pribadi yang abid (ahli ibadah) seperti akhlak para salafus shalihin.
Walaupun manusia memiliki sifat kikir seperti dalam firmanNya: "Katakanlah: "Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya. Dan adalah manusia itu sangat kikir." (QS.17:100). Akan tetapi tidak demikian, jika seseorang yang komitmen terhadap keimanannya. Karena menyadari, bahwa rizki yang Allah SWT berikan sesungguhnya amanah semata, yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali olehNya. Jika setiap umat menyadari asal-usul rizki secara proposional, tentu akan melahirkan pribadi-pribadi yang abid (ahli ibadah) seperti akhlak para salafus shalihin.
Label:
At-Tadbiniyyah
Al-Maluu'a
Bentuk kefasikan yang lainnya dalam mengotori kebenaran al-Haq yaitu dimilikinya sifat keluh-kesah dalam jiwa seseorang. Terjadinya al-maluu'a (keluh-kesah) dalam diri seseorang merupakan sebuah rangkaian yang tidak terlepaskan dari hasil kefasikan, karenanya hidup selalu merasa terasingkan. Jika hanya dipahami secara kasar orang mengatakan, bentuk keluh-kesah (al-maluu'a) diciptakan oleh Allah jadi tidak perlu dipermasalahkan.
Sebenarnya bukan permasalahan yang jadi konteks di sini, namun menunjukkan bahwa kekuasaan Allah SWT dalam menciptakan sesuatu. Termasuk pengertian al-maluu'a seperti firmanNya: "Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh-kesah lagi kikir." (QS.70:19). Sekaligus informasi, bahwa Allahlah yang memiliki kekuasaan dan penguasa, karena manusia berhadapan dengan kondisi keluh-kesah sekalipun tidak mampu meninggalkannya. Oleh karena mengapa bangga akan kesombongan diri sendiri, tidakkah kita seharusnya memikirkan ayat-ayatNya.
Sebenarnya bukan permasalahan yang jadi konteks di sini, namun menunjukkan bahwa kekuasaan Allah SWT dalam menciptakan sesuatu. Termasuk pengertian al-maluu'a seperti firmanNya: "Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh-kesah lagi kikir." (QS.70:19). Sekaligus informasi, bahwa Allahlah yang memiliki kekuasaan dan penguasa, karena manusia berhadapan dengan kondisi keluh-kesah sekalipun tidak mampu meninggalkannya. Oleh karena mengapa bangga akan kesombongan diri sendiri, tidakkah kita seharusnya memikirkan ayat-ayatNya.
Label:
At-Tadbiniyyah
At-Tadbiniyyah
Aktivitas orang-orang fasik pada hakekatnya at-tadbiniyyah (mengotori) ketentuan Allah SWT yang seharusnya mampu mengaktualisasikannya semata-mata untuk beribadah kepadaNya secara kaffah. Bentuk nyata dari usaha at-tadbiniyyah terhadap hukum Allah SWT, akan tampak dari aktivitas seseorang yang terkena penyakit fasik yaitu:
2. 'Ajuulan
Akibat kefasikan yang melanda hati dan pikiran, seseorang akan tampak dalam berperilaku 'ajuulan (terburu-buru), sehingga hasilnya kurang memuaskan, kemungkinan lain dapat merugikan semua pihak. Betapa berbahayanya, orang yang di luar terkena getahnya, padahal tidak mengetahui permasalahannya. Di samping itu, manusia mempunyai sifat tergesa-gesaan seperti ditegaskan oleh Allah SWT: "Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa." (QS.17:11).
Perbuatan yang dilakukan secara tergesa-gesa pada hakekatnya bentuk orang-orang yang membelakangi sunnatullah dan ketidakmampuan menghadapi kesabaran. Sehingga ditempuh jalan garis cepat, yang sebenarnya akan berhadapan dengan kerugian serta berbagai benturan. Pada akhirnya tercipta kondisi yang tidak menentu dan kemudian lahirlah sikap ragu-ragu terhadap langkah berikutnya.
2. 'Ajuulan
Akibat kefasikan yang melanda hati dan pikiran, seseorang akan tampak dalam berperilaku 'ajuulan (terburu-buru), sehingga hasilnya kurang memuaskan, kemungkinan lain dapat merugikan semua pihak. Betapa berbahayanya, orang yang di luar terkena getahnya, padahal tidak mengetahui permasalahannya. Di samping itu, manusia mempunyai sifat tergesa-gesaan seperti ditegaskan oleh Allah SWT: "Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa." (QS.17:11).
Perbuatan yang dilakukan secara tergesa-gesa pada hakekatnya bentuk orang-orang yang membelakangi sunnatullah dan ketidakmampuan menghadapi kesabaran. Sehingga ditempuh jalan garis cepat, yang sebenarnya akan berhadapan dengan kerugian serta berbagai benturan. Pada akhirnya tercipta kondisi yang tidak menentu dan kemudian lahirlah sikap ragu-ragu terhadap langkah berikutnya.
Label:
At-Tadbiniyyah
Subscribe to:
Posts (Atom)