JIKA SOHIB INGIN MENINGGALKAN PESAN DI POSTING, KLIK DULU JUDUL POSTINGANNYA

Friday, September 11, 2009

Manaqib Abuya Dimyati

MENGENANG SANG WALI QUTUB (ABUYA DIMYATI)
Sinopsis Buku: Manakib Abuya Cidahu (Dalam Pesona langkah di Dua Alam)
Alangkah ruginya orang Indonesia kalau tidak mengenal ulama satu ini. Orang bulang Mbah Dim, Banten atau Abuya Dimyati bin Syaikh Muhammad Amin. Beliau adalah tokoh kharismatik dunia kepesantrenan, penganjur ajaran Ahlusunah Wal Jama’ah dari pondok pesantren, Cidahu, Pandeglang, Banten. Beliau ulama yang sangat konsen terhadap akhirat, bersahaja, selalu menjauhi keduniawian. Wirangi (hati-hati dalam bicara, konsisten dalam perkataan dan perbuatan). Ahli sodakoh, puasa, makan seperlunya, ala kadarnya seperti dicontohkan Kanjeng Nabi, humanis, penuh kasih sesama umat manusia. Kegiatan kesehariannya hanya mulang ngaji (mengajar ilmu), salat serta menjalankan kesunatan lainnya.

Beliau lahir sekitar tahun 1925 anak pasangan dari H.Amin dan Hj.Ruqayah. Sejak kecil Abuya Dimyathi sudah menampakan kecerdasannya dan keshalihannya, beliau belajar dari satu pesantren ke pesantren lainnya mulai dari Pesantren Cadasari, kadupeseng Pandeglang, ke Plamunan hingga ke Pleret Cirebon. Semasa hidupnya, Abuya Dimyathi dikenal sebagai gurunya dari para guru dan kiainya dari para kiai, sehingga tak berlebihan kalau disebut sebagai tipe ulama Khas al-Khas. Masyarakat Banten menjuluki beliau juga sebagai pakunya daerah Banten, di samping sebagai pakunya negara Indonesia . Di balik kemasyhuran nama Abuya, beliau adalah orang yang sederhana dan bersahaja. Kalau melihat wajah beliau terasa ada perasaan ‘adem’ dan tenteram di hati orang yang melihatnya.

Abuya Dimyati, begitu panggilan hormat masyarakat kepadanya, terlahir tahun 1925 di tanah Banten, salah satu bumi terberkahi. Tepatnya di Kabupaten Pandeglang. Abuya Dimyathi dikenal sosok ulama yang cukup sempurna dalam menjalankan perintah agama, beliau bukan saja mengajarkan dalam ilmu syari’ah tetapi juga menjalankan kehidupan dengan pendekatan tasawuf, tarekat yang dianutnya tarekat Naqsabandiyyah Qodiriyyah. Maka wajar jika dalam perilaku sehari-hari beliau penuh tawadhu’, istiqamah, zuhud, dan ikhlas. Abuya adalah seorang qurra’ dengan lidah yang fasih. Wiridan al-Qur’an sudah istiqamah lebih dari 40 tahun. Kalau shalat tarawih di bulan puasa, tidak turun untuk sahur kecuali setelah mengkhatamkan al-Qur’an dalam shalat.. Oleh karenanya, tidak salah jika kemudian kita mengategorikan Abuya sebagai Ulama multidimensi.

Dibanding dengan ulama kebanyakan, Abuya Dimyathi ini menempuh jalan spiritual yang unik. Beliau secara tegas menyeru: “Thariqah aing mah ngaji!” (Jalan saya adalah ngaji). Sebab, tinggi rendahnya derajat keualamaan seseorang bisa dilihat dari bagaimana ia memberi penghargaan terhadap ilmu. Sebagaimana yang termaktub dalam surat al-Mujadilah ayat 11, bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan. Dipertegas lagi dalam hadis nabi, al-Ulama’u waratsatul anbiya’, para ulama adalah pewaris para nabi. Ngaji sebagai sarana pewarisan ilmu. Melalui ngaji, sunnah dan keteladanan nabi diajarkan. Melalui ngaji, tradisi para sahabat dan tabi’in diwariskan. Ahmad Munir berpendapat bahwa ilmu adalah suatu keistimewaan yang menjadikan manusia unggul atas makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahannya.

Saking pentingnya ngaji dan belajar, satu hal yang sering disampaikan dan diingatkan Mbah Dim adalah: “Jangan sampai ngaji ditinggalkan karena kesibukan lain atau karena umur”. Pesan ini sering diulang-ulang, seolah-olah Mbah Dim ingin memberikan tekanan khusus; jangan sampai ngaji ditinggal meskipun dunia runtuh seribu kali! Apalagi demi sekedar hajatan partai. Urusan ngaji ini juga wajib ain hukumnya bagi putra-putri Mbah Dim untuk mengikutinya. Bahkan, ngaji tidak akan dimulai, fasal-fasal tidak akan dibuka, kecuali semua putra-putrinya hadir di dalam majlis. Itulah sekelumit keteladanan Mbah Dimyati dan putra-putrinya, yang sejalan dengan pesan al-Qur’an dalam surat al-Tahrim ayat 6, Qu anfusakum wa ahlikum naran.

Dahaga akan ilmu tiada habis, satu hal yang mungkin tidak masuk akal bila seorang yang sudah menikah dan punya putra berangkat mondok lagi, bahkan bersama putranya. Tapi itulah Abuya Dimyati, ketulusannya dalam menimba ilmu agama dan mensyiarkannya membawa beliau pada satu tingkat di atas khalayak biasa.

Abuya berguru pada ulama-ulama sepuh di tanah Jawa. Di antaranya Abuya Abdul Chalim, Abuya Muqri Abdul Chamid, Mama Achmad Bakri (Mama Sempur), Mbah Dalhar Watucongol, Mbah Nawawi Jejeran Jogja, Mbah Khozin Bendo Pare, Mbah Baidlowi Lasem, Mbah Rukyat Kaliwungu dan masih banyak lagi. Kesemua guru-guru beliau bermuara pada Syech Nawawi al Bantany. Kata Abuya, para kiai sepuh tersebut adalah memiliki kriteria kekhilafahan atau mursyid sempurna, setelah Abuya berguru, tak lama kemudian para kiai sepuh wafat.(hal 396).

Ketika mondok di Watucongol, Abuya sudah diminta untuk mengajar oleh Mbah Dalhar. Satu kisah unik ketika Abuya datang pertama ke Watucongol, Mbah Dalhar memberi kabar kepada santri-santri besok akan datang ‘kitab banyak’. Dan hal ini terbukti mulai saat masih mondok di Watucongol sampai di tempat beliau mondok lainya, hingga sampai Abuya menetap, beliau banyak mengajar dan mengorek kitab-kitab. Di pondok Bendo, Pare, Abuya lebih di kenal dengan sebutan ‘Mbah Dim Banten’ dan mendapat laqob ‘Sulthon Aulia’, karena Abuya memang wira’i dan topo dunyo. Pada tiap Pondok yang Abuya singgahi, selalu ada peningkatan santri mengaji dan ini satu bukti tersendiri di tiap daerah yang Abuya singgahi jadi terberkahi

Namun, Kini, waliyullah itu telah pergi meninggalkan kita semua. Abuya Dimyathi tak akan tergantikan lagi. Malam Jumat pahing, 3 Oktober 2003 M/07 Sya’ban 1424 H, sekitar pukul 03:00 wib umat Muslim, khususnya warga Nahdlatul Ulama telah kehilangan salah seorang ulamanya, KH. Muhammad Dimyati bin KH. Muhammad Amin Al-Bantani, di Cidahu, Cadasari, Pandeglang, Banten dalam usia 78 tahun. Padahal, pada hari itu juga, dilangsungkan acara resepsi pernikahan putranya. Sehingga, Banten ramai akan pengunjung yang ingin mengikuti acara resepsi pernikahan, sementara tidak sedikit masyarakat –pelayat- yang datang ke kediaman Abuya. Inilah merupakan kekuasaan Allah yang maha mengatur, menjalankan dua agenda besar, “pernikahan” dan “pemakaman”. (tor/abu-abu/Dari berbagai sumber)

JS-Kit Comments

EBOOK MOSLEM SPEKTAKULER 100% GRATIS

Sejarah Cianjur Sareng Rd. ARIA WIRATANU
100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia
15 Faktor Mantapnya Aqidah Salaf (Syaikh ‘Abdurrazzaq al-Badr)
3 Risalah Sholat
50 Indikasi Destruktif Demokrasi, Pemilu dan Partai (Syaikh ‘Abdul Majid ar-Raimi)
Abah Khaer
Abduh
Abdul Qadir Djaelani
Abu Nawas
Adabul Majelis dan Kesalahannya
Agama Haq
Ahmadiah
Akhlak Mulia
Alhikam
al-Masih Al-Mawud Sesatnya Al-Qiyadah Al-Islamiyah
Al-Masih Versi Yahudi dan Nasrani
Al-Qur'an Dihina Gusdur
Al-Ushul
Al-Wajiz fi Minhajissalaf
Anjuran Bersatu
Aqidah Ahlus Sunnah : Ciri dan Konsep – Syaikh Muhammad Ibrahim al-Hamd
Aqidah Mu'min
Aqidah Salaf
Assunnahv.0.1
Bahaya Gibah
Bahter Dakwah Salafiyah – Ustadz Arifin Baderi
Beginilah Cermin Salafi Sejati
Bekal Idul Adha
Bekal Pernikahan
Bekal-Bekal da'i
Bekal-bekal Ramadhan (Syaikh Muhamad Jamil Zainu)
Biarkan Syiah Bicara Tentang Agamanya
Bimbingan Islam Dalam Menyikapi Palestina
Bingkisan Untuk Kaum Muslimin Palestina
Biography Abu Bakar siddik
Biography Imam Ali bin Abi Tholib
Biography Ummar bin Khottob
Biography Utsman bin Affan
Dakwah ilalloh-IbnuBaz
Dan Binasalah Yahudi : Nubuwat Kehancuran Bangsa Yahudi
Fatwa Jenazah
Futuhul Ghaib
Ghuluw Nashara Terhadap Isa bin Maryam alaihissalam
Hadits Arbain Nawawiah
Hakikat Bid’ah dan Kufur (Syaikh al-Albani)
Hakikat Tasawuf
Hikmah dari Perjalanan Hidup Nabi Ibrahim alaihissalam
Hikmah Turunnya Nabi Isa alaihissalam
Hilangnya Ilmu dengan diwafatkannya Ulama
Hukum Cadar Antara Yang Mewajibkan dan Yang Tidak : Ustadz Khalid Syamhudi
Ihya Ulumuddin Jilid 2
Ihya Ulumuddin Jilid 3
Ihya Ulumuddin Jilid 1
Ikutilah Sunnah Jauhi Bid’ah (Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad)
Imam Mahdi
Inilah Haddadiyah, Waspadalah
Islam di Akhir Zaman
Islam di lecehkan
Jangan Gampang Memvonis Mati Syahid
Jawaban Telak bagi Quburiyyun
JIL Sebuah Doktrin Yang Telah Usang – Ustadz Arifin Baderi
Kamus Istilah Komputer dan Informatika
Kimia Kebahagiaan Imam Al-Ghazali
Kisah Shahih Seputar Nabi dan Rasul (Vol 1) – Syaikh Umar al-Asyqor
Kontroversi Puasa Sunnah Hari Sabtu (Argumentasi dan Jawaban)
Kumpulan Buku Hartono Ahmad Jaiz
Kumpulan Buku Tentang Hakikat Syiah
Kumpulan Doa
Kumpulan Hadits Qudsi
Kumpulan Kisah Islami
La-Tahzan
Malapetaka Akhir Zaman – Syaikh Ibnu Jibrin
Memetik Faidah dari Biografi Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad
Meneladani Rasulullah dalam Ber-Idul Fitri
Mengajarkan Keadilan Bukan Persamaan dalam Segala Hal
Menghidupkan 10 Malam Terakhir Ramadhan – Syaikh ‘Abdullah al-Jarullah
Mengingat Mati
Meraih Kemuliaan dengan Islam
Misi Nabi Isa alaihissalam Saat Turun keBumi
Mungkinkah Syiah dan Sunnah Bersatu
Palestina
Palestina-3
Pembelaan Terhadap Imam Ibn Abd.Wahhab
Pembelaan terhadap Albani
Perkara Keimanan
Pesona Angkasa Raya
Poligami Dihujat
Qurban Keutamaan dan Hukumnya
Rifqon ahlassunnah bi ahlissunnah
Risalah Bantahan Syiah
Risalah Jumat
Riyadussalihin Jilid 1
Riyadussalihin Jilid 2
Salah Kaprah Ucapan Salaf
Sejarah Teks Al-Qur'an
Semua Tentang Ramadhan
ShiyanahThullab min SyubahiThalibi
Sirah Nabawiah
SKB Ahmadiah
Suvenir Pernikahan
Syaikh Surkati Reformis yang teraniaya
Tafsir Al- Ajhar
TahdzirUlamaKibar
Tanya Jawab Seputar HT (Syaikh Salim al-Hilali)
Terjemah Matan Jurumiah
The Book of Tauhid
The Da Vinci Code (Terjemahan)
The Secret (Rahasia)
Tiga Landasan Utama (al-Ushûl ats-Tsalâtsah) – Syaikhul Islam Muhammad bin Abdil Wahhab
Turunnya Isa bin Maryam alaihissalam Pertanda Akhir Zaman
zakatcal